Home Daerah Cerpen: Di Balik Seragam Lusuh Itu

Cerpen: Di Balik Seragam Lusuh Itu

73
0
SHARE
Cerpen: Di Balik Seragam Lusuh Itu

Ugdnews.com-Pagi itu halaman sekolah masih menyimpan sisa hujan semalam, dan seorang siswi berdiri di barisan dengan seragam yang warnanya telah memudar. Tak ada yang benar benar memperhatikannya, kecuali seorang kakak kelas yang diam dan terbiasa mengamati dari jauh. Dari tatapan sederhana itulah sebuah peristiwa kecil bermula, lalu perlahan mengubah banyak hal.

Halaman sekolah selalu riuh setiap Senin pagi. Suara sepatu beradu dengan paving basah, tawa yang berusaha ditahan, dan barisan yang tak pernah benar benar lurus. Di antara keramaian itu, Rani berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.

Seragamnya bersih, tetapi jelas sudah lama. Warna putihnya tidak lagi terang, rok birunya sedikit berbeda gradasi dengan milik siswa lain. Di bagian lengan ada jahitan kecil yang tampak dikerjakan terburu buru. Tas kain yang ia bawa mulai mengelupas di sudutnya.

Beberapa siswa melirik sekilas. Ada yang berbisik pelan. Tidak keras, tetapi cukup membuat Rani semakin menunduk.

Di barisan kelas dua belas, Arga memperhatikannya tanpa ekspresi. Ia memang terbiasa melihat hal hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain. Sejak kelas sepuluh, ia lebih suka berdiri di pinggir, mengamati, mencatat dalam diam.

Bel masuk berbunyi. Barisan bubar seperti biasa.

Hari hari berikutnya, Arga mulai menyadari pola. Rani selalu datang paling pagi, duduk di bangku paling belakang, dan jarang berbicara. Saat pelajaran olahraga, ia terlihat canggung. Ketika teman teman lain tertawa lepas, ia lebih sering tersenyum tipis.

Suatu siang, Arga melihatnya di dekat kamar mandi sekolah. Rani sedang mencoba merapikan jahitan yang kembali terlepas. Jarumnya kecil, benangnya kusut. Tangannya gemetar. Ia melakukannya cepat, seolah takut terlihat.

Pemandangan itu mengusik sesuatu dalam diri Arga.

Ia teringat masa kelas tujuh, ketika ia sendiri pernah diejek karena sepatu yang solnya menganga. Ia ingat bagaimana rasanya menjadi pusat tatapan tanpa ingin diperhatikan. Ia ingat bagaimana suara tawa bisa terasa lebih tajam dari kata kata.

Sore itu Arga tidak langsung pulang. Ia berjalan ke toko seragam di dekat pasar. Ia berdiri lama di depan etalase, memandangi kain putih yang tergantung rapi. Dalam benaknya ada keraguan. Apakah tindakannya nanti akan dianggap merendahkan. Apakah ia sedang mencampuri urusan orang lain.

Namun bayangan jahitan yang gemetar itu kembali muncul.

Ia membeli satu stel seragam dengan ukuran yang ia perkirakan. Uang yang ia gunakan adalah tabungan yang ia kumpulkan untuk membeli sepatu futsal baru. Saat menyerahkan uang, ia merasa aneh, seolah sedang membayar sesuatu yang lebih dari sekadar kain.

Keesokan paginya ia menemui Bu Ratna, guru bimbingan konseling yang dikenal bijaksana. Ia menitipkan bungkusan itu dan hanya berkata singkat, tolong berikan tanpa menyebut nama saya.

Bu Ratna menatapnya lama sebelum mengangguk.

Siang itu Rani dipanggil ke ruang guru. Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan. Ketika ia keluar, matanya basah. Di tangannya ada kantong plastik bening.

Dua hari kemudian, Rani datang dengan seragam baru. Putihnya bersih, birunya segar. Ia masih berdiri di tempat yang sama saat upacara, tetapi ada sesuatu yang berubah. Bahunya lebih tegak. Tatapannya tidak lagi selalu ke tanah.

Kabar tentang kakak kelas yang membelikan seragam mulai beredar. Seseorang mengunggah potongan video ketika Rani menerima bungkusan itu di ruang guru. Dalam waktu singkat, cerita itu menyebar ke berbagai grup dan linimasa.

Komentar berdatangan. Pujian, doa, bahkan tawaran bantuan untuk siswa lain. Sekolah mendadak terasa seperti ruang yang dipenuhi sorot lampu.

Arga tidak nyaman. Ia tidak pernah bermaksud menjadikan hal itu tontonan. Ia mulai menghindari keramaian, lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Dalam diam, ia bertanya apakah ia telah melakukan hal yang benar.

Beberapa teman menepuk bahunya dan memanggilnya pahlawan. Ia hanya tersenyum tipis. Kata itu terasa terlalu besar untuk sesuatu yang menurutnya sederhana.

Sementara itu, Rani perlahan berubah. Ia mulai aktif bertanya di kelas. Nilainya meningkat. Ia bergabung dalam kegiatan literasi dan membaca puisi di depan kelas dengan suara yang masih bergetar tetapi berani.

Suatu sore ia menghampiri Arga di perpustakaan.

Kak, terima kasih, ucapnya pelan.

Arga mengangkat wajah dari bukunya. Untuk apa.

Untuk tidak membuat saya merasa kecil.

Kalimat itu membuat Arga terdiam lebih lama daripada biasanya.

Tahun ajaran mendekati akhir. Video tentang seragam itu masih sesekali muncul, tetapi perhatian orang orang mulai berpindah ke hal lain. Seperti biasa, dunia digital cepat melupakan.

Hari kelulusan tiba. Aula sekolah dipenuhi orang tua dan siswa. Kepala sekolah menyampaikan sambutan panjang tentang prestasi dan kebersamaan.

Nama Arga dipanggil sebagai siswa berprestasi sekaligus teladan. Tepuk tangan menggema. Ia melangkah ke depan dengan langkah yang terasa berat.

Sebelum ia kembali ke tempat duduk, kepala sekolah meminta satu nama lagi maju ke panggung.

Rani.

Suasana mendadak lebih hening.

Rani berdiri di depan mikrofon. Wajahnya tenang, tidak lagi menunduk seperti hari pertama ia datang.

Saya ingin bercerita sedikit, katanya.

Ia menatap ke arah barisan siswa, lalu ke arah guru guru.

Seragam saya waktu itu memang terlihat lusuh. Tapi saya memakainya bukan karena tidak punya yang baru.

Beberapa orang mulai saling berpandangan.

Saya pindah ke sekolah ini karena di tempat lama saya sering dirundung. Bukan karena miskin, tetapi karena dianggap berbeda. Saya ingin tahu, apakah di sini orang orang masih melihat lebih dari sekadar penampilan.

Napas Arga terasa tertahan.

Ayah saya adalah salah satu donatur tetap sekolah ini. Kami membantu tanpa pernah disebutkan namanya. Ketika saya meminta izin untuk memakai seragam lama di minggu minggu pertama, ayah saya terkejut. Tapi ia mengizinkan.

Rani berhenti sejenak.

Saya tidak sedang menguji siapa pun secara resmi. Saya hanya ingin memastikan bahwa bantuan kami diberikan pada lingkungan yang memiliki hati.

Tatapannya berhenti pada Arga.

Dan saya menemukannya pada seseorang yang membantu tanpa ingin dikenal.

Aula sunyi. Tidak ada tepuk tangan seketika. Hanya keheningan yang terasa lebih berat dari suara apa pun.

Arga tidak merasa tertipu. Ia justru merasa ditelanjangi oleh kebenaran yang sederhana. Bahwa kebaikan tidak pernah benar benar tahu siapa yang sedang ia sentuh. Bahwa empati tidak menunggu data dan latar belakang.

Ia teringat kembali sepatu bolongnya dulu, tawa yang melukai, dan rasa ingin menghilang. Jika hari itu ada satu orang saja yang peduli, mungkin lukanya tidak akan selama itu.

Kepala sekolah akhirnya memecah keheningan dengan tepuk tangan pelan yang kemudian diikuti seluruh aula.

Hari itu, banyak yang pulang dengan pikiran berbeda. Tentang penampilan. Tentang martabat. Tentang betapa mudahnya menilai dan betapa jarangnya benar benar melihat.

Arga turun dari panggung tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun. Ia hanya merasa lebih mengerti. Bahwa kadang kadang, seragam yang tampak lusuh bukan sekadar kain yang usang.

Ia bisa menjadi cermin.

Dan di balik seragam lusuh itu, yang sesungguhnya diuji bukanlah kemiskinan, melainkan kemanusiaan.


(Dwi Taufan Hidayat)

Iklan Detail Video

iklanhomebawah