
Keterangan Gambar : Di dalam kisah yang kutulis, ada seorang tokoh bernama Arga, lelaki yang berdiri di pinggir panggung sandiwara kota. Arga muak pada drama yang tak berkesudahan.
Ugdnews.com - Pada suatu sore yang tampak biasa, seorang penulis tua merekam riuh dunia dari bangku halte. Ia percaya keseimbangan hidup bisa diselamatkan dengan kata. Namun setiap wajah bertopeng, tawa yang memarodikan luka, dan tutur manis beraroma iblis, mendorongnya menulis sebuah kisah berbingkai tentang panggung manusia dan rahasia di baliknya yang kelak memantul sebagai cermin pahit bagi dirinya sendiri malam itu kelam.
Aku menulis kisah ini dengan cara yang berlapis, seolah dunia hanya bisa dipahami jika diceritakan dari jarak tertentu. Dari halte itu aku melihat kota bernapas dengan irama timpang. Orang-orang datang dan pergi, membawa peluh yang disamarkan senyum. Mereka bercakap tentang harapan sambil menyembunyikan niat. Aku menatap dan mencatat, percaya bahwa menghirup hidup yang seimbang masih mungkin, asal tidak memaksa diri menjadi paling.
Di dalam kisah yang kutulis, ada seorang tokoh bernama Arga, lelaki yang berdiri di pinggir panggung sandiwara kota. Arga muak pada drama yang tak berkesudahan. Ia melihat luka diparodikan dengan jenaka di layar-layar kecil, melihat tangis dipoles cahaya agar tampak memesona. Ia memilih diam, sebab setiap kata sering berubah pisau. Arga ingin sederhana, hidup dengan napas yang tak tersengal ambisi.
Aku membingkai Arga dengan narator lain, seorang perempuan bernama Lira, yang gemar menertawakan kepedihan. Lira bekerja di balik layar, merias wajah-wajah agar tampak tulus. Baginya, dunia adalah pertunjukan. Ia percaya penonton hanya butuh ilusi. Lira tahu tentang curang yang menikam dari belakang, sebab tangannya sendiri sering mengikat tali-temali jebakan. Namun ia menertawakannya, seolah luka hanyalah properti.
Dalam cerita itu, Arga dan Lira bertemu di sebuah panggung terbuka. Riuh dunia menjadi latar. Mereka berbincang tentang seimbang yang nyaris mustahil. Arga berkata, segala timpang akan berujung sakit dan bimbang. Lira menjawab, sakit adalah mata uang yang laku dijual. Penonton bersorak ketika dialog mereka viral. Aku, sebagai penulis, merasa puas karena bingkai demi bingkai terpasang rapi.
Di halte, bus datang membawa iklan besar tentang kebahagiaan instan. Aku tersenyum pahit dan melanjutkan tulisan. Kumasukkan adegan ketika panggung runtuh oleh kebisingan sendiri. Topeng-topeng jatuh, menampakkan wajah letih. Orang-orang saling menuduh, saling memeluk untuk kamera, saling menikam dalam gelap. Arga terluka, Lira tertawa. Penonton bertepuk tangan.
Aku menulis lebih dalam, menambahkan monolog Arga tentang keinginannya menghirup hidup yang seimbang. Ia menolak menjadi pahlawan. Ia memilih pulang, meninggalkan panggung. Dalam bingkai terluar, aku menutup laptop sejenak. Sore berubah malam. Lampu kota menyala seperti mata yang tak mau berkedip. Ada rasa mual melihat betapa tutur manis mudah berubah iblis.
Kembali ke cerita, Lira menyadari penonton mulai bosan. Ia merancang twist, mengorbankan Arga agar drama hidup kembali. Dalam rencananya, Arga dituduh sebagai dalang segala curang. Bukti palsu disebar. Tangis disiarkan. Penonton menuntut hukuman. Lira berdiri angkuh, berharap iba luruh. Di sinilah aku, penulis, merasa bingkai bergetar. Cerita seakan menatap balik.
Aku menulis adegan pengadilan panggung. Hakim memakai topeng netral. Saksi bicara manis. Arga diam. Ia menatap penonton dan bertanya, siapa yang diuntungkan oleh semua ini. Pertanyaan itu tenggelam oleh sorak. Palu diketuk. Arga tumbang. Lira tersenyum, lalu menangis di depan kamera. Riuh mencapai puncak.
Di halte, seseorang duduk di sampingku. Bayangannya menutup layar. Ia bertanya apa yang kutulis. Aku menjawab, tentang dunia yang lancang. Ia tertawa pelan, berkata dunia hanya cermin bagi mereka yang memolesnya. Aku merasakan tusukan kecil di punggung, seperti kata-kata yang terlambat kusadari. Aku menoleh, tapi ia sudah pergi.
Aku menutup cerita dengan kepulangan Arga yang tak pernah terjadi. Aku menulis keseimbangan sebagai mitos yang dijual murah. Lira mendapatkan panggung baru. Penonton lupa. Kisah selesai. Namun bingkai terakhir kubuka lagi, memaksa diriku masuk ke dalam halaman. Aku menulis pengakuan seorang penulis tua yang selama ini merias luka dengan metafora, memonetisasi kepedihan, dan menyebutnya kritik.
Kejutan itu menghantamku saat sirene mendekat. Luka di punggung menghangat. Di layar laptop, kursor berkedip di kalimat terakhir. Aku sadar, lelaki di sampingku adalah petugas yang kukirimi naskah palsu bertahun-tahun, orang yang kusalahkan dalam cerita-ceritaku. Ia menusukku bukan dengan pisau, melainkan dengan bukti. Cerita ini bukan kritik, melainkan berita acara. Aku adalah Lira.
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.













LEAVE A REPLY