Home Artikel Cerpen: Bahagia Yang Disembunyikan Diam Diam

Cerpen: Bahagia Yang Disembunyikan Diam Diam

71
0
SHARE
Cerpen: Bahagia Yang Disembunyikan Diam Diam

Keterangan Gambar : Dua bocah berhelm hijau dan biru meluncur berdampingan di atas sepatu roda, tangan mereka terentang menjaga keseimbangan. Cahaya sore membuat wajah mereka tampak cerah, seperti tak pernah mengenal kata kekurangan.


Ugdnews.com - Senin 23/2/2026.

Foto itu terlihat biasa saja di layar ponsel. Dua anak kecil meluncur di atas sepatu roda, tertawa di jalan kampung yang sempit. Banyak yang melihatnya sebagai potret kebahagiaan sederhana. Tak seorang pun menduga, gambar itu adalah bingkai rapuh yang menahan rasa malu, harga diri, dan kesunyian panjang yang sengaja disembunyikan dari dunia yang gemar menelan kesedihan orang lain.

Foto itu pertama kali muncul di grup WhatsApp warga menjelang magrib. Dua bocah berhelm hijau dan biru meluncur berdampingan di atas sepatu roda, tangan mereka terentang menjaga keseimbangan. Cahaya sore membuat wajah mereka tampak cerah, seperti tak pernah mengenal kata kekurangan.

Aku yang memotret foto itu.

Namaku Rahman. Seorang ayah dua anak yang belajar menguasai satu keahlian penting dalam hidup orang kecil yaitu diam. Media sosialku penuh gambar senja, secangkir kopi, dan kutipan singkat tentang kesabaran. Tak ada keluhan. Tak ada cerita tentang isi dapur atau tagihan yang menumpuk.

Aku mewarisi kebiasaan itu dari ayahku.

Ayah selalu berkata, keagungan seseorang terletak pada kemampuannya menyimpan. Ia menyimpan kefakiran sampai orang mengira kami berkecukupan. Ia menyimpan marah sampai orang percaya ia selalu ridha. Bahkan ketika paru parunya perlahan rusak, ia menyimpan sakitnya sampai kami yakin Allah selalu memberinya nikmat.

Sepatu roda yang dipakai anak anakku bukan milik kami. Helm dan pelindung lutut itu pinjaman dari anak tetangga yang jarang keluar rumah. Aku menunggu lama sebelum memotret, menanti matahari turun di sudut yang tepat, agar tak terlihat kusam dan seadanya.

Istriku berdiri di belakangku saat aku mengangkat ponsel.

“Untuk apa difoto” tanyanya pelan.

“Biar mereka punya kenangan,” jawabku.

Ia tidak bertanya lagi. Ia tahu, kadang kenangan lebih murah daripada kejujuran.

Beberapa jam setelah foto itu terkirim, komentar berdatangan. Ada yang memuji perlengkapan keselamatan. Ada yang bertanya merek sepatu roda. Ada pula yang berkelakar tentang mahalnya hobi anak kota. Aku menjawab seperlunya. Jari jemariku terlatih menahan cerita yang sebenarnya.

Malam itu kami makan nasi dengan garam dan sedikit minyak. Anak anak tetap tertawa, menceritakan siapa yang hampir jatuh. Aku mengangguk, menelan rasa bersalah yang menggumpal di tenggorokan.

Tiga hari kemudian, seorang tetangga mengetuk pintu. Di tangannya ada amplop cokelat.

“Titipan dari komunitas sepatu roda kota,” katanya. “Mereka lihat foto anak njenengan.”

Aku menatap amplop itu lama. Tanganku bergetar. Istriku memandangku tanpa berkata apa apa.

“Aku tidak pernah minta,” kataku.

“Tidak ada yang bilang njenengan minta,” jawab tetangga itu singkat.

Di dalam amplop ada uang yang cukup untuk melunasi listrik dan membeli sepatu roda bekas yang layak. Aku duduk lama setelah pintu tertutup. Harga diriku berdebat keras dengan kebutuhan. Aku memilih diam. Seperti ayah.

Aku tidak mengunggah apa pun. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada cerita haru. Aku takut, sekali membuka celah, kesunyian yang kujaga akan runtuh.

Namun seminggu kemudian, seorang petugas kelurahan memanggilku. Ia menunjukkan layar ponsel. Foto anak anakku terpampang besar di unggahan donasi yang viral. Narasinya panjang dan menyayat. Tentang ayah pekerja serabutan. Ibu yang sakit sakitan. Anak anak ceria di tengah kemiskinan.

Sebagian benar. Sebagian dilebihkan.

Dadaku sesak. Telapak tanganku basah. Aku ingin membantah, ingin meluruskan, ingin berkata bahwa diamku bukan izin. Tapi kata kata berhenti di ujung lidah.

“Banyak yang terinspirasi,” kata petugas itu. “Panjenengan jadi contoh.”

Contoh dari cerita yang tidak pernah kutulis.

Aku pulang dengan langkah berat. Malam itu aku membuka kembali foto lama ayahku. Ia tersenyum tipis di depan rumah reyot yang selalu kami sebut cukup. Baru kali ini aku sadar, mungkin ia pun pernah lelah menyembunyikan semuanya sendirian.

Esoknya, aku mengunggah foto yang sama. Dua anak di atas sepatu roda. Tanpa filter. Tanpa tambahan cerita sedih.

Captionnya singkat.

“Kebahagiaan kadang bukan tentang apa yang kita miliki, tapi apa yang kita pilih untuk tidak kita ceritakan.”

Unggahan itu viral lebih cepat dari sebelumnya. Orang orang menafsirkan sendiri. Ada yang memuji ketegaran. Ada yang menambahkan kisah mereka sendiri di kolom komentar.

Tapi kali ini aku melakukan satu hal yang tidak kulakukan sebelumnya.

Aku menutup kolom komentar. Lalu aku keluar dari akun itu. Bukan karena sedih, bukan karena marah.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti, tidak semua kesunyian perlu dibela, dan tidak semua cerita harus diselamatkan oleh dunia.

Sebagian cukup berhenti di tangan yang menurunkan ponsel, dan memilih hidup tanpa perlu terlihat kuat oleh siapa pun.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Iklan Detail Video

iklanhomebawah