
Keterangan Gambar : Hamzah bin Abdul Muttalib, sosok yang namanya menggema dalam sejarah sebagai Singa Allah dan penghulu para syuhada sepanjang zaman.
Ugdnews.com - Senin 23/2/2026.
Di tengah kerasnya tekanan Quraisy terhadap dakwah Rasulullah ﷺ, berdirilah seorang lelaki tegap, pemberani, dan tegas membela kebenaran. Ia bukan sekadar paman Nabi, tetapi tameng hidup yang Allah hadirkan pada fase paling genting perjuangan Islam. Dialah Hamzah bin Abdul Muttalib, sosok yang namanya menggema dalam sejarah sebagai Singa Allah dan penghulu para syuhada sepanjang zaman.
Hamzah bin Abdul Muttalib رضي الله عنه adalah paman sekaligus saudara sepersusuan Rasulullah ﷺ. Sejak muda, ia dikenal sebagai pemburu tangguh, pemberani, dan terpandang di tengah masyarakat Quraisy. Kepribadiannya keras terhadap kezaliman dan lembut kepada keluarga. Namun hidayah Allah datang dengan cara yang mengguncang jiwa. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa Abu Jahal telah mencaci dan menyakiti keponakannya, Muhammad ﷺ, di dekat Ka’bah. Tanpa ragu, Hamzah mendatangi Abu Jahal dan memukulnya dengan busur panah seraya menyatakan keislamannya di hadapan orang-orang Quraisy. Sejak saat itu, ia menjadi benteng kokoh bagi Nabi.
Keislaman Hamzah bukan sekadar luapan emosi membela keluarga. Hatinya kemudian benar-benar tunduk kepada Allah. Ia berdiri sejajar dengan para sahabat awal dalam menghadapi intimidasi, boikot, dan ancaman pembunuhan. Allah berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak.” (QS. An-Nisa: 75)
Ayat ini seakan tergambar dalam jiwa Hamzah. Ia tidak tahan melihat Rasulullah ﷺ disakiti. Kehadirannya membuat kaum Quraisy berpikir ulang untuk menyentuh Nabi secara terbuka.
Ketika kaum Muslimin hijrah ke Madinah dan diizinkan berperang, Hamzah termasuk barisan terdepan. Dalam Perang Badar, ia tampil sebagai singa medan laga. Dengan keberanian luar biasa, ia menghadapi tokoh-tokoh Quraisy dan menumbangkan beberapa di antara mereka. Kaum Muslimin menyaksikan sendiri bagaimana Hamzah berperang dengan penuh keyakinan, seolah hidup dan mati baginya sama saja selama berada di jalan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ
“Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang Allah sediakan bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.” (HR. Bukhari)
Hamzah mengejar derajat itu bukan karena haus darah, tetapi karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Di luar medan perang, Hamzah dikenal tekun beribadah. Ia menyertai Rasulullah ﷺ dalam shalat, mendengarkan wahyu, dan menghadiri majelis ilmu. Keberaniannya di medan perang diimbangi dengan kerendahan hati dalam sujud. Ia memahami sabda Nabi ﷺ:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim.” (HR. Abu Dawud)
Hamzah telah melakukannya sejak awal, menyatakan keislaman di tengah para pembesar Quraisy tanpa gentar.
Puncak pengorbanannya terjadi pada Perang Uhud. Kaum Quraisy datang dengan dendam membara. Hamzah kembali maju paling depan. Ia bertempur dengan gagah berani, menumbangkan musuh demi musuh. Namun takdir Allah menuliskan kesyahidan baginya. Seorang budak bernama Wahsyi melemparkan tombak dari kejauhan dan mengenai tubuhnya. Hamzah gugur sebagai syahid.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat jasad pamannya, beliau sangat berduka. Tidak pernah terlihat beliau sesedih itu di medan perang. Beliau berdiri di samping jasad Hamzah dengan mata yang basah, lalu bersabda:
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ
“Penghulu para syuhada adalah Hamzah.” (HR. al-Hakim)
Kesedihan Rasulullah ﷺ bukan hanya karena kehilangan paman, tetapi karena kehilangan pelindung yang selama ini berdiri tegap membela dakwah. Namun Islam mengajarkan bahwa darah syuhada tidak pernah sia-sia. Allah berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)
Ayat ini menjadi penghibur bagi kaum Muslimin. Hamzah tidak mati; ia hidup dalam kemuliaan di sisi Rabbnya.
Jejak perjuangan Hamzah mengajarkan bahwa keberanian sejati lahir dari iman. Ia tidak hanya kuat secara fisik, tetapi kokoh secara spiritual. Ia membela Nabi bukan karena fanatisme keluarga semata, melainkan karena keyakinan bahwa risalah ini adalah kebenaran. Dalam dirinya berpadu keberanian, keteguhan, dan ketekunan ibadah.
Hingga hari ini, nama Hamzah disebut dengan penuh hormat. Ketika kita membaca sirahnya, hati bergetar menyadari betapa mahal harga yang dibayar demi tegaknya Islam. Ia adalah contoh bahwa membela agama bukan sekadar slogan, tetapi pengorbanan nyata. Semoga Allah meridhai Hamzah bin Abdul Muttalib, Singa Allah, penghulu para syuhada, dan menghimpunkan kita bersama para pejuang kebenaran di surga-Nya kelak.
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.













LEAVE A REPLY