Home Artikel 28 Tahun Berjalan, Menemukan Arti Pulang

28 Tahun Berjalan, Menemukan Arti Pulang

6
0
SHARE
28 Tahun Berjalan, Menemukan Arti Pulang

Keterangan Gambar : Selama 28 tahun, Karl Bushby berjalan melintasi empat benua, menembus hutan, gurun, lautan, dan perbatasan negara demi satu tujuan: pulang ke Hull, Inggris. Kini, perjalanan sekitar 58.000 kilometer itu hampir berakhir.

UgdNews.com, 01 November 2026

Selama 28 tahun, Karl Bushby berjalan melintasi empat benua, menembus hutan, gurun, lautan, dan perbatasan negara demi satu tujuan: pulang ke Hull, Inggris. Kini, perjalanan sekitar 58.000 kilometer itu hampir berakhir. Namun, di balik pencapaian luar biasa tersebut, ada harga kehidupan yang tak kalah besar: waktu bersama anak, cucu, dan keluarga yang tak mungkin diputar kembali.

Pada 1 November 1998, mantan anggota pasukan terjun payung Inggris itu memulai Goliath Expedition dari Punta Arenas, Chile. Usianya ketika itu 29 tahun. Ia menetapkan dua aturan: tidak menggunakan transportasi untuk memajukan perjalanan dan tidak kembali ke Inggris sebelum seluruh rute diselesaikan dengan berjalan kaki. Perjalanan yang diperkirakan memakan waktu 12 tahun justru berkembang menjadi ekspedisi selama hampir tiga dekade. BBC, 20 Juni 2026, mencatat panjang perjalanan tersebut mencapai sekitar 36.000 mil atau 58.000 kilometer.

Bushby bukan sekadar melintasi jalan raya. Ia menembus hutan berbahaya Darién Gap, menyeberangi Selat Bering yang membeku antara Alaska dan Rusia, menghadapi penahanan, persoalan visa, krisis keuangan, pandemi, serta perubahan geopolitik. Ketika jalur darat semakin sulit ditempuh akibat ketegangan internasional, ia bahkan berenang melintasi Laut Kaspia pada 2024. Perjalanan itu menunjukkan bahwa kegigihan manusia tidak berdiri sendiri, melainkan terus berhadapan dengan keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan. BBC, 20 Juni 2026.

Namun, pencapaian geografis tersebut menyimpan paradoks kemanusiaan. Ketika Bushby berangkat, putranya, Adam, baru berusia delapan tahun. Kini Adam telah berusia 36 tahun dan menjadi seorang ayah. Sementara itu, Bushby memiliki cucu perempuan berusia 12 tahun yang belum pernah ditemuinya secara langsung. Waktu yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan keluarga berubah menjadi tahun-tahun panjang yang sebagian besar dihabiskan di perjalanan. British GQ, 26 September 2026.

Adam tidak sepenuhnya menempatkan ayahnya sebagai pahlawan ataupun orang yang bersalah. Ia memahami bahwa Bushby memiliki pilihan hidup sendiri, tetapi juga menyadari besarnya konsekuensi yang harus diterima keluarga. Dalam wawancara dengan British GQ, Adam mengakui bahwa ayahnya telah kehilangan banyak bagian penting dalam kehidupannya. Pengakuan ini membuat kisah Bushby jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita keberanian dan ketekunan.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: sampai sejauh mana ambisi pribadi dapat dibenarkan ketika konsekuensinya ikut dirasakan orang-orang terdekat? Tidak tepat menghakimi Bushby hanya dengan ukuran kehidupan keluarga konvensional. Setiap manusia berhak mengejar impiannya. Namun, kebebasan menentukan jalan hidup juga tidak menghapus tanggung jawab terhadap keluarga. Keberhasilan individual dan kedekatan emosional merupakan dua hal berbeda yang tidak otomatis berjalan beriringan.

Perjalanan panjang itu juga membawa konsekuensi psikologis. Selama puluhan tahun, Bushby hidup dengan satu tujuan yang terus menuntut penyelesaian. Ketika garis akhir semakin dekat, muncul kecemasan menghadapi kehidupan tanpa ekspedisi. Tidak ada lagi perbatasan yang harus dilintasi, kilometer yang harus dituntaskan, atau tantangan baru yang menjadi alasan untuk terus bergerak. The Guardian, 13 Oktober 2026, mengungkap kegelisahan Bushby menghadapi perubahan besar tersebut.

Persoalan berikutnya bukan lagi bagaimana menaklukkan jarak geografis, melainkan bagaimana membangun kembali kehidupan yang lama ditinggalkan. Ia harus menyesuaikan diri dengan Inggris yang telah berubah, mengenali kembali keluarganya, dan menemukan peran baru setelah identitasnya selama 28 tahun melekat pada seorang penjelajah. Bahkan, hubungan dengan anak dan cucunya membutuhkan ruang untuk tumbuh kembali. Kepulangan secara fisik tidak otomatis memulihkan kedekatan emosional.

Kini, perjalanan itu benar-benar mendekati akhir. Associated Press, 1 November 2026, melaporkan Bushby tinggal sekitar 50 kilometer dari tujuan akhirnya. Hull City Council melalui pengumuman 26 Oktober 2026 menjadwalkan penyambutannya di Queen Victoria Square pada 2 November 2026, sebelum ia melanjutkan langkah terakhir menuju rumah keluarganya.

Kisah Bushby mengajarkan bahwa ketekunan mampu membawa manusia melampaui batas yang dianggap mustahil. Namun, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari jarak, prestasi, atau pengakuan publik. Ada waktu yang hilang, hubungan yang perlu dirawat, dan tanggung jawab yang tetap menunggu meskipun sebuah impian telah tercapai.

Selama 28 tahun, Bushby berjuang agar bisa berjalan pulang. Kini, tantangan terbesarnya mungkin justru dimulai setelah ia tiba: menemukan kembali makna rumah, bukan sekadar sebagai tempat tinggal, melainkan ruang untuk membangun hubungan yang sempat terpisah oleh perjalanan panjang.

Dunia hampir berhasil ia kelilingi. Tetapi perjalanan untuk kembali dekat dengan keluarga mungkin membutuhkan ketekunan yang jauh lebih besar.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

iklanhomebawah